Instagram Diakuisisi Facebook $1B — Saya Salah Waktu Itu
Tanggal 9 April lalu Facebook umumkan akuisisi Instagram seharga $1 miliar. Cash + saham. Untuk app yang baru launch 18 bulan, dengan 13 karyawan, tanpa revenue. Angka itu shocking — bahkan untuk standar Silicon Valley.
Saya baca berita itu pagi-pagi sambil ngopi. Saya re-read tweet pertama berkali-kali untuk pastikan saya tidak salah baca. Lalu saya buka blog ini, scroll ke post November 2010, dan saya tertawa sambil agak malu sendiri.
Di post November 2010, saya tulis: "saya belum yakin Instagram akan jadi besar di Indonesia". Saya kasih beberapa alasan: iOS-only, foto-only feels limited, behavior Indonesia belum se-aware US. Saya prediksi Instagram akan tetap niche di Indonesia.
18 bulan kemudian, Instagram dibeli $1 miliar.
Saya salah. Bukan salah sedikit — salah besar. Apa pelajarannya?
Pertama, soal tipe kesalahan: saya undervalue kekuatan habit-forming product. Saya analisis Instagram dari sisi fitur dan demografis. Saya tidak analisis dari sisi: kalau dia bisa convince 1 juta orang dalam 2 bulan untuk pakai harian, dia punya sesuatu yang sangat kuat — apapun fitur-nya, apapun batasan platform-nya. Habit > features. Habit > demographics.
Kedua, soal tipe expansion. Instagram launch Android-app April 2012, dan dalam hitungan hari dapat jutaan user. Saya pikir iOS-only akan jadi pembatas permanen. Salah. Mereka cukup tunggu sampai engagement-nya solid di iOS, lalu expand dengan PR yang sudah built-in.
Ketiga, soal valuasi. Pada saat dibeli, Instagram punya 30 juta user, 0 revenue, mostly mobile. Kenapa Facebook kasih $1B? Karena Facebook tahu mobile masa depan, dan Instagram sudah lebih dominan di mobile-photo space daripada apapun yang Facebook punya. Bukan akuisisi feature — akuisisi pertahanan.
Kalau saya assess Instagram tahun 2010, saya pakai lens "social network". Facebook pakai lens "mobile-first". Lens yang berbeda kasih kesimpulan yang berbeda.
Pelajaran terbesar buat saya, sebagai developer yang sering berdebat soal produk: saya harus lebih rendah hati soal prediksi. Saya akan terus salah. Itu OK. Yang penting: tulis prediksi saya, lalu jujur revisit ketika data baru muncul.
Saya bilang Instagram tidak akan besar. Salah. Saya bilang Path akan jadi tier-1 di Indonesia. Sekarang Path tembus 5 juta user globally, dengan Indonesia driving growth — kelihatannya saya benar di sini, tapi terlalu cepat untuk yakin. Saya bilang Google+ akan gagal. Belum bisa pastikan, tapi sinyal-nya mendukung.
3 prediksi, 1 jelas salah, 1 partial benar, 1 belum bisa pastikan. Itu track record yang biasa untuk pengamat industri. Mudah-mudahan ke depan saya bisa lebih akurat. Tapi yang pasti, saya akan tetap menulis. Karena prediksi yang salah pun, jadi pelajaran yang lebih bagus daripada tidak punya prediksi sama sekali.
Selamat ke Kevin Systrom dan tim Instagram. Mereka layak. Saya akan instal app-nya lagi (sudah uninstalled 2 tahun lalu) dan nyalain notification. Mari lihat kenapa orang dunia jatuh cinta dengan filter foto.

Komentar