Instagram Baru Launch, dan Kenapa Saya Belum Yakin
Tiga minggu lalu (6 Oktober), Kevin Systrom dan Mike Krieger launch Instagram. App iOS sederhana untuk share foto dengan filter. Dalam 2 bulan, dilaporkan punya 1 juta user. Pertumbuhan yang impresif. Tapi saya akan tulis sesuatu yang mungkin tidak populer: saya belum yakin Instagram akan jadi besar di Indonesia.
Saya pakai Instagram sejak minggu kedua. Filter-nya menarik, terutama Nashville dan Earlybird. Saya rasa lucu — foto-foto saya yang biasa, ditambah filter, terlihat lebih "ada karakter". Tapi setelah 3 minggu, saya stop. Belum jadi habit. Belum jadi tempat saya cek setiap pagi.
Beberapa alasan:
Pertama, iOS-only. Saya pakai iPhone, jadi tidak masalah. Tapi mayoritas teman saya di Jakarta sekarang pakai BlackBerry atau Android. Kalau Instagram tidak masuk ke platform itu, dia akan terbatas di lingkaran kecil. Sosial network butuh network effect — kalau teman saya tidak ada di sana, saya tidak akan habit-kan.
Kedua, foto-only feels limited. Twitter punya teks (yang gampang share + reply). Facebook punya teks + foto + status + check-in (multi-modal). Instagram cuma foto. Untuk percakapan yang dalam atau cerita yang complex, Instagram bukan tempat. Untuk Indonesia di mana teks dan diskusi politik/sosial dominan di social media, Instagram terasa kurang punya tempat.
Ketiga, behavior orang Indonesia soal foto belum se-aware orang Amerika. Di US, ada budaya curate yang kuat — foto yang di-upload harus bagus, harus considered. Di Indonesia, foto di Facebook sekarang masih banyak yang foto random — buram, blurry, atau cuma capture random. Instagram dengan filter-nya cocok untuk orang yang sudah peduli tentang aesthetic. Sebagian besar pengguna sosial media Indonesia, saya rasa belum sampai sana.
Tapi ada beberapa hal yang membuat saya pikirin lagi.
Pertumbuhan 1 juta user dalam 2 bulan itu unprecedented. Bahkan Twitter ambil 2 tahun sebelum dapat 1 juta active user. Ada sesuatu yang resonan dengan early adopters di seluruh dunia. Mungkin saya terlalu skeptis.
iPhone 4 yang baru rilis di Indonesia ekspektasinya akan dijual besar tahun depan. Kamera iPhone 4 jauh lebih bagus dari iPhone 3G. Kalau Instagram tetap iOS-only sampai pertengahan 2011, mereka akan dapat bonus dari user iPhone 4 yang baru.
Dan satu observasi kecil: anak muda Indonesia umur 17-22 sekarang mulai aktif foto-foto. Kafe, makanan, pemandangan, selfie. Instagram cocok dengan kebiasaan baru ini. Mungkin saya yang sudah umur 23 dan stop foto-foto random, bukan target market mereka.
Prediksi saya untuk 2 tahun ke depan: Instagram akan jadi besar globally. Di Indonesia, dia akan establish di niche kecil tapi growing — kalangan creative profesional, fotografer amatir, food blogger. Tapi tidak akan se-massive Facebook atau Twitter di sini, kecuali mereka launch versi Android.
Saya akan re-evaluate Instagram 6 bulan lagi. Mungkin saya salah. Mungkin saya benar. Tidak apa-apa salah sekarang — di blog ini, saya bisa lihat kembali tulisan ini nanti dan belajar dari ekspektasi yang meleset.

Komentar