Google+ Setelah 6 Bulan — Saya Pikir Akan Gagal
Bulan Juni kemarin Google launch Google+. Setelah upaya berkali-kali (Wave, Buzz, Orkut) — Google akhirnya keluarin social network yang dianggap "Facebook killer". Saya dapet invite di hari kedua. Saya excited. Saya rekrut 30 teman dari Path dan Facebook untuk join.
Sekarang, 6 bulan kemudian, saya buka Google+ kurang dari sebulan sekali. Mayoritas teman saya yang join dulu sudah berhenti. Saya rasa sekarang waktunya nulis prediksi yang tidak populer: Google+ akan gagal.
Alasannya banyak.
Pertama, masalah konsep "Circles". Google+ punya fitur unik di mana kita bisa kelompokin teman ke berbagai circle (Friends, Family, Work, Acquaintances). Lalu kita bisa post ke circle tertentu saja. Secara konsep, brilliant — solves the problem yang Facebook punya (semua orang dilihat semua orang). Tapi dalam praktek, terlalu banyak friction. Setiap kali mau post, saya harus mikir "ini cocok untuk siapa?". Akhirnya saya tidak post sama sekali.
Path solve problem yang sama dengan cara berbeda: batasi friend list ke 50. Lebih simple, lebih intuitif, tidak ada friction setiap post.
Kedua, masalah "kebun kosong". Saya buka Google+ pagi ini. Timeline saya nyaris kosong. Tidak ada teman saya yang post hari ini. Mungkin 5 post dari user random yang Google rekomendasikan. Itu tidak menarik. Saya tutup tab dalam 30 detik. Compare dengan Twitter — timeline saya selalu ramai, ada update terus.
Network effect: Google+ tidak punya kritisi mass yang aktif post. Tanpa orang aktif, tidak ada yang konsumsi. Tanpa yang konsumsi, tidak ada motivasi untuk post. Death spiral.
Ketiga, masalah identitas. Google+ memaksa pakai nama asli. Itu bagus untuk integritas, tapi membatasi adopsi. Banyak segment user yang lebih suka anonim atau semi-anonim — gaming community, fan communities, support groups. Mereka ada di Reddit, di Tumblr, di forum-forum kecil. Google+ tidak menyediakan rumah untuk mereka.
Keempat, masalah Google bundle. Google "force" semua user Gmail untuk daftar Google+. Hasilnya: jutaan akun zombie. Profile dibuat tapi tidak pernah dipakai. Data Google+ mereka kelihatan besar di chart, tapi engagement real rendah. Investor akan disappoint. Eksekutif Google akan resign. Produk akan dimothball.
Saya prediksi: dalam 2-3 tahun, Google+ akan join graveyard Google Wave dan Buzz. Mungkin tidak shut down formal — tapi di-deprioritize, tim dipindah ke project lain, jadi feature graveyard yang tidak pernah disebut Google sendiri.
Pelajaran-nya buat saya: kita bisa punya produk yang secara teknis bagus, dengan tim yang ekstrim talented, dukungan finansial penuh, distribusi yang massive — dan tetap gagal. Karena social network bukan tentang teknologi atau fitur. Tentang kebiasaan. Dan kebiasaan dibangun lewat habitual usage yang kecil tapi konsisten.
Facebook punya itu. Twitter punya itu. Path punya itu di Indonesia. Google+ tidak pernah punya itu — dan saya rasa, tidak akan pernah.
Saya akan re-check tulisan ini di tahun 2014. Mudah-mudahan saya benar (untuk pelajaran-nya), atau mudah-mudahan saya salah (untuk Google yang sukses bikin social yang bagus). Kita lihat.

Komentar