0%
2 min left

Friendster Mulai Sepi, Semua Pindah ke Facebook

Friendster Mulai Sepi, Semua Pindah ke Facebook
← Kembali ke Blog

Saya baru sadar minggu lalu — sudah dua bulan saya tidak buka Friendster. Notifikasi yang dulu ramai testimoni, sekarang sepi. Sementara di Facebook, setiap hari ada teman lama yang nge-add. Generasi awal social media Indonesia sedang berpindah, dan menariknya, Facebook menawarkan sesuatu yang Friendster tidak punya: real-time wall, status update, dan yang paling penting — orang-orang yang kita kenal benar.

Friendster dulu seperti album foto digital yang punya tempat untuk komentar di bawahnya. Kita rajin upload foto, kasih testimoni teman, ganti-ganti template warna pink kebiruan. Tapi semua itu statis. Sekali profile dibikin, ya begitu saja. Kalau mau update, harus ke menu edit, nulis ulang, save.

Facebook beda. Saya nyalain laptop pagi-pagi, log in, dan langsung ada feed. Teman A baru posting foto kemarin malam. Teman B update status "lagi macet di Sudirman". Teman C nge-tag saya di foto reuni SMA. Semuanya live, semuanya berlangsung. Saya bahkan tidak harus klik ke profile satu-satu — semua datang ke saya.

Yang kedua, dan saya rasa ini yang lebih kuat: orang-orang di Facebook lebih dekat dengan "saya yang sekarang". Di Friendster, friend list saya isinya teman SMP, teman warnet, teman kenalan di chat room — banyak yang sudah lupa siapa. Di Facebook, yang mulai add saya kebanyakan teman kantor, teman komunitas web, teman kuliah yang masih connect. Lebih relevan dengan hidup saya hari ini.

Tapi ada hal yang saya pikirkan terus. Friendster bukan teknologi yang buruk. Mereka yang duluan masuk Indonesia, mereka yang membuat orang Indonesia kenal "social networking". Tapi mereka kalah cepat. Sementara mereka masih sibuk membenahi server yang lambat dan template yang berantakan, Facebook sudah punya developer platform, sudah ada Causes, sudah ada Marketplace. Friendster seperti toko serba ada yang ramai tahun lalu, sekarang menunggu pelanggan datang. Facebook seperti pasar baru yang lebih kecil tapi lebih hidup — orang datang bukan cuma untuk lihat-lihat, tapi untuk benar-benar ngapain.

Saya jadi mikir, ini bukan cuma soal teknologi. Ini soal momentum. Sekali sebuah platform kehilangan momentum, susah balik. Teman-teman yang sudah pindah, mereka tidak akan kembali. Mereka di Facebook setiap hari sekarang. Aktivitas itu yang membuat platform hidup.

Buat saya yang masih belajar dunia web, ini pelajaran. Platform yang menang bukan selalu yang pertama, bukan selalu yang paling canggih secara teknis. Tapi yang paling mengerti apa yang orang mau lakukan di sana hari ini.

Friendster mungkin masih akan ada lama. Tapi saya rasa, sebagai tempat orang Indonesia berkumpul setiap hari — kepindahan ini permanen.

Komentar

Memuat komentar…