BlackBerry Messenger Mengubah Cara Orang Pakai HP di Indonesia
Dua bulan ini saya perhatikan pola yang menarik. Di rapat kantor, semakin sering saya lihat orang ngeluarin BlackBerry, ngetik sebentar, masukin lagi ke saku. Bukan iPhone. Bukan Nokia. BlackBerry, dengan keyboard mungilnya yang bunyinya khas "click click click".
Yang mereka kerjain hampir selalu sama: BBM. BlackBerry Messenger.
BBM bukan teknologi yang revolusioner. Secara fungsi, dia mirip dengan YM atau MSN — chat antar pengguna. Yang membedakan: BBM jalan langsung di handphone, real-time, dengan delivery notification yang langsung ke-update di layar. Kalau pesan kita dibaca, pengirim tahu langsung lewat "R" yang muncul di samping pesan. Ini perubahan kecil yang ternyata membongkar etika komunikasi.
Dulu, kalau saya SMS teman dan mereka tidak balas dalam 5 menit, asumsi default: mereka sibuk. Tidak ada cara tahu mereka sudah baca atau belum. Sekarang dengan BBM, kalau "R" sudah muncul tapi tidak ada balasan dalam 5 menit — itu pernyataan sosial. Saya tahu mereka baca, tapi tidak mau balas. Ini bisa awkward.
Yang menarik adalah cara BBM menyebar di Indonesia. Bukan lewat iklan. Bukan lewat marketing massive. Tapi lewat "PIN". Setiap BlackBerry punya PIN unik 8 karakter. Untuk add kontak BBM, kita harus tukar PIN — bisa lewat SMS, bisa lewat ditulis di buku, bisa lewat di-foto.
PIN BBM ini cepat jadi semacam "kartu nama digital". Di kantor saya, beberapa orang sengaja print PIN di samping email signature mereka. Di kafe, saya pernah lihat orang tukar PIN sebagai akhir dari kenalan pertama, persis seperti tukar kartu nama. Generasi yang dulu tukar nomor HP, sekarang tukar PIN.
Implikasi bisnis-nya menarik. BlackBerry — yang sebenarnya brand Kanada yang fokus enterprise — tiba-tiba jadi "must have" untuk konsumen Indonesia kelas menengah ke atas. Penjualan BlackBerry di Indonesia 2009 ini saya rasa akan melonjak. Telkomsel dan Indosat sudah punya paket BBM unlimited. Ini jadi mesin pendapatan yang besar buat mereka.
Tapi ada hal yang membuat saya pikir. BBM hanya jalan antar BlackBerry. Closed ecosystem. Kalau saya pakai iPhone, saya tidak bisa BBM-an dengan teman yang pakai BlackBerry. Untuk komunikasi yang sifatnya cross-platform, kita harus turun ke SMS atau YM.
Saya rasa, dalam 2–3 tahun ke depan, akan ada protocol chat yang cross-platform yang menang. Mungkin Google Talk akan extend ke mobile. Mungkin ada player baru yang muncul. Tapi BBM yang sekarang dominan di Indonesia, akan kalah ketika orang mulai mix platform — sebagian iPhone, sebagian Android (yang baru muncul). BlackBerry harus buka BBM ke OS lain kalau mau bertahan. Kalau tidak, mereka jadi seperti Friendster: dominan sebentar, lalu tergerus karena terlalu insular.
Tapi untuk sekarang, kalau kita di Jakarta dan mau ditemukan profesional yang sibuk, BlackBerry adalah handphone yang harus dipegang.

Komentar