0%
3 min left

BBM Akhirnya Cross-Platform — Tapi Apakah Sudah Terlambat?

BBM Akhirnya Cross-Platform — Tapi Apakah Sudah Terlambat?
← Kembali ke Blog

BlackBerry akhirnya launch BBM untuk Android dan iOS bulan September. Setelah bertahun-tahun jadi exclusive di BlackBerry phones, BBM sekarang available untuk semua orang.

Saya download di iPhone 5 saya hari pertama (server-nya crash karena overload — saya berhasil daftar baru hari kedua). PIN BBM lama saya — yang sudah saya tinggalkan setahun lalu ketika saya stop pakai BlackBerry — tidak transfer. Saya buat akun baru. Tukar PIN dengan beberapa teman lama, supaya bisa BBM-an lagi.

Tapi pertanyaan-nya: apakah sudah terlambat?

Ingatkan kembali — saya tulis tentang BBM di 2009. Waktu itu BBM dominan di Indonesia kalangan profesional. Saya prediksi: dalam 2-3 tahun, BBM harus buka ke OS lain kalau mau bertahan. Kalau tidak, dia akan jadi seperti Friendster — dominan sebentar, lalu tergerus.

2-3 tahun sudah lewat. BBM baru buka sekarang — 4 tahun setelah prediksi saya. Pertanyaan-nya: terlambat atau pas waktu?

Saya pikir terlambat. Dan inilah kenapa.

Selama 4 tahun terakhir, lanskap chat di Indonesia sudah berubah drastis. WhatsApp tumbuh besar — di kantor saya, 80% kontak komunikasi kerja sekarang lewat WhatsApp. Line ramai di kalangan anak muda dengan sticker dan game integration. WeChat masuk Indonesia (mostly via TKI di luar negeri). Plus Path masih relevan untuk teman dekat.

BBM datang ke pasar yang sudah penuh. Untuk convert user dari WhatsApp ke BBM, butuh reason yang strong. Saya tidak melihat reason itu.

Yang BBM punya: history nostalgia. Banyak orang Indonesia (termasuk saya) punya memori dengan BBM — masa di mana BBM PIN adalah "kartu nama digital" di Jakarta. Itu memory yang manis. Tapi nostalgia bukan growth strategy.

Yang BBM tidak punya: differentiation. Apa yang BBM kasih yang WhatsApp tidak kasih? Sticker? WhatsApp sudah punya. Group chat? Sudah. Voice notes? Sudah. Read receipt yang notif? Pernah dulu unique, sekarang umum.

Saya tidak bilang BBM akan langsung mati. Mereka punya brand recognition yang kuat di Indonesia. Mungkin akan punya 5-10 juta user di Indonesia, jadi tier-3 messenger. Tapi mereka tidak akan reclaim dominance.

Implikasi yang lebih besar: BlackBerry as a company is in trouble. Phones-nya sudah tidak relevan (mereka stop produksi sementara, lalu launch BB 10 yang gagal). Sekarang BBM cross-platform terlambat. Setelah ini, apa yang akan jadi business mereka?

Banyak yang prediksi acquisition. Microsoft yang lagi cari mobile presence. Atau Lenovo, atau Samsung. Tahun depan kita akan tahu.

Pelajaran-nya buat saya: timing dalam membuka platform itu sangat penting. Kalau kita lock ekosistem ketika kita dominan, untuk dapat keuntungan struktural — itu masuk akal. Tapi kita harus tahu kapan saatnya buka. Window itu sempit, dan begitu tertutup, sangat susah re-open.

BlackBerry punya 2-3 tahun window di sekitar 2010-2011. Mereka tidak ambil. Sekarang window-nya sudah tertutup, dan mereka coba buka pintu — pintu masuk yang sudah dipake banyak orang ke bangunan lain.

Selamat untuk tim yang masih kerja di BBM. Tugas kalian berat. Saya yakin mereka kompeten, tapi market dynamics kadang lebih kuat dari kompetensi individu.

Komentar

Memuat komentar…