Apple Watch — Wearable Akan Menang, Tapi Bukan Tahun Ini
24 April Apple Watch resmi dijual. Saya tidak beli (belum). Tapi saya pinjam dari teman yang sudah pre-order, dan setelah 3 hari, saya tulis observasi yang mungkin tidak populer: Apple Watch tidak akan menjadi hit besar di tahun pertama.
Apa yang membuat saya pikir begitu? Mari saya jelaskan.
Pertama, value proposition-nya tidak jelas. iPhone menjawab masalah jelas: pocket computer, browser, kamera, music player, semua-in-one. Apple Watch menjawab pertanyaan yang kabur: "apa fungsi handphone yang akan lebih nyaman kalau di pergelangan tangan?". Notifikasi? Bisa. Mengecek waktu? Bisa. Health tracking? Sebagian. Tapi tidak ada yang membuat saya merasa "wow, saya butuh ini".
Bandingkan dengan iPhone original di 2007 — semua orang yang pegang langsung tahu, ini akan ubah dunia. Apple Watch hari ini tidak punya momen itu.
Kedua, ketergantungan pada iPhone. Apple Watch tidak punya cellular sendiri. Tanpa iPhone di dekat, dia hanya jam mahal dengan beberapa fungsi terbatas. Itu membuat-nya jadi accessory, bukan device independent. Pasar accessory selalu lebih kecil dari device pasar.
Ketiga, harga. $349 starting price, dan banyak yang upgrade ke versi yang lebih mahal ($549 untuk stainless steel, $10,000+ untuk Edition gold). Untuk smartphone yang harga-nya $649, kita dapat capability luar biasa. Untuk watch yang $349, kita dapat tambahan kecil ke iPhone yang sudah kita punya. Value proposition tidak proporsional.
Tapi saya pikir wearable akan menang jangka panjang. Bukan Apple Watch versi pertama, tapi generasi berikutnya, atau pesaing yang figure out value proposition yang lebih jelas. Karena tiga hal:
Pertama, health tracking. Smartphone kita sekarang sudah track step, sleep, dll. Tapi handphone tidak bisa terus-menerus di pergelangan tangan saat olahraga atau tidur. Watch yang lebih akurat dan continuous akan menang.
Kedua, biometric authentication. Bayangkan smartwatch yang sebagai akhirnya autentikasi pemiliknya secara terus-menerus lewat heart rate signature (unik per orang). Sekali authenticate pagi-pagi, semua transaksi sehari-hari lewat tanpa password.
Ketiga, ambient computing. Notifikasi penting yang muncul di pergelangan tangan, tanpa harus keluarin handphone. Voice assistant yang dipanggil dengan ngomong tanpa harus pegang device. Itu memerlukan watch sebagai constant interface.
Untuk Indonesia, Apple Watch akan tetap niche. Harga tidak terjangkau most pasar. Tapi dalam 5-10 tahun, smartwatch Android dengan harga $100 akan jadi mass-market. Penjualan smartwatch akan exceed smartphone untuk tahun pertama kali, tapi itu mungkin 2025-2030.
Sementara itu, saya tetap pakai jam mekanik biasa (atau handphone untuk waktu). Saya tidak rugi miss Apple Watch generation pertama. Saya akan re-evaluate generasi ke-3 atau ke-4, ketika value-nya jadi jelas.
Pelajaran-nya buat saya: produk yang revolusioner (iPhone, Tesla, Gojek) clear dari awal. Produk yang "interesting but unclear" (Apple Watch tahun ini) biasanya butuh beberapa generasi sebelum break through. Patience.
Saya akan ikuti dengan minat. Apple yang biasanya jago di produk define-category, ini agak miss. Mereka akan iterasi cepat — itu kelebihan mereka. Mari lihat versi ke-2 dan ke-3.

Komentar