0%
3 min left

Android Pertama yang Saya Anggap Serius vs iPhone

Android Pertama yang Saya Anggap Serius vs iPhone
← Kembali ke Blog

Bulan lalu Telkomsel mulai jual Samsung Galaxy S resmi. Sebelumnya, Android di Indonesia datang dari HTC Desire (yang beredar lewat operator-mu, masih grey market) atau dari teman yang import dari Singapore. Galaxy S Telkomsel itu launch Android serius pertama yang ditargetkan ke konsumen Indonesia kelas menengah.

Saya tidak beli (saya masih commit ke iPhone 3G sampai kontrak habis), tapi minggu lalu pinjam Galaxy S dari teman di kantor selama 3 hari. Ini observasi saya.

Hardware-nya, jujur, bagus. Layar Super AMOLED 4 inci jelas lebih cerah dari iPhone 3G saya. Body-nya tipis dan ringan. Kameranya 5 megapixel, di atas iPhone. Suara speaker keras. Build quality solid.

Software-nya, di sini cerita-nya jadi menarik. Android 2.1 (Eclair) terasa berbeda filosofi dari iOS. Kalau iOS tentang "Apple yang pilihkan kamu yang terbaik", Android tentang "kamu yang pilih, kami kasih opsi". Setting menu jauh lebih banyak. Widget di home screen bisa custom. Saya bisa replace launcher default kalau mau. Saya bisa install apk dari luar Play Store.

Untuk developer (atau orang yang suka ngoprek), Android jauh lebih menarik. Saya bisa SSH ke handphone saya kalau saya install app yang tepat. Saya bisa edit hosts file. Saya bisa pakai ADB untuk debug aplikasi web di mobile browser. Itu impossible di iOS tanpa jailbreak.

Tapi untuk pengalaman sehari-hari — chat, email, social media, foto — saya rasa iPhone masih lebih halus. Android punya bug-bug kecil yang annoying: keyboard kadang lag, app store inconsistent (kadang Market crash, kadang download stuck), beberapa app premium dari iOS tidak ada versi Android-nya.

Pertanyaan yang lebih besar buat saya: dalam 2-3 tahun ke depan, mana yang akan menang di Indonesia?

Argumen pro-iPhone: ekosistem yang lebih solid, marketing Apple yang konsisten, App Store dengan banyak game premium yang dibeli orang. iPhone akan tetap jadi pilihan kelas atas.

Argumen pro-Android: variety device dari murah sampai mahal, pasar Indonesia yang lebih sensitif harga, BlackBerry akan kalah karena tidak punya app ecosystem, Symbian sudah jelas dying. Android akan jadi default untuk orang yang dulu pakai Nokia.

Saya rasa, kedua-duanya akan menang di segmen masing-masing. iPhone tetap dominan di kelas premium (4-5 juta ke atas). Android akan mengisi pasar 2-4 juta yang BlackBerry sekarang dominan. Symbian akan turun ke pasar bawah, kemudian hilang dalam 3-4 tahun.

Yang lebih menarik: untuk developer mobile Indonesia, peluang lagi membuka. Android development butuh Java (yang banyak orang Indonesia sudah punya skill). iOS development butuh Mac dan Objective-C (yang lebih sedikit punya). Saya rasa banyak teman developer Indonesia akan masuk ke Android development, mulai bikin app lokal: kalender Islam, jadwal sholat, kamus, peta busway Jakarta, dll.

Saya kembalikan Galaxy S ke teman. Saya akan stick dengan iPhone 3G sampai akhir kontrak. Tapi handphone berikutnya — Android atau iPhone 4 — saya belum pasti. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, saya punya pilihan riil.

Komentar

Memuat komentar…