The Story Behind Unblocking Netflix on Telkom Network
Waktu itu saya menjabat sebagai GM Business Development & Partnerships di Metranet. Content — khususnya yang baru — memang masuk ke dalam portfolio yang ada di bawah saya. Dan Metranet sudah melihat ada potensi kerja sama yang menarik dengan Netflix.
Jadi ketika ada kesempatan untuk melanjutkan inisiatif yang sebelumnya sudah mulai digagas oleh Melon — sekarang namanya Nuon — dan Telkomsel, saya yang ambil bola itu. Bulan Juni 2019, saya pun terbang ke Singapura, ke kantor perwakilan Netflix di sana, dan di situlah saya pertama kali bertemu dengan Tizar Patria.
Dari pertemuan itu, perjalanan panjang dua tahun lebih pun dimulai.
Kenapa Netflix Diblok?
Sebelum cerita lebih jauh, perlu sedikit konteks dulu.
Januari 2016. Netflix baru saja masuk Indonesia — bagian dari ekspansi global mereka ke 130 negara sekaligus. Tapi tidak sampai 24 jam, Telkom langsung memblokir akses Netflix di seluruh platformnya: IndiHome, Telkomsel, dan WiFi.id.
Alasan resminya ada beberapa:
- Izin — Netflix tidak punya badan hukum di Indonesia, tidak punya kantor di sini, dan tidak mengajukan lisensi content provider seperti yang disyaratkan regulasi
- Konten — Telkom menilai konten Netflix tidak melalui proses sensor Lembaga Sensor Film (LSF) dan banyak yang dianggap tidak sesuai norma Indonesia
- Pajak — ini yang sering tidak disebut terang-terangan. Saat itu transaksi Netflix untuk pengguna Asia Pasifik diproses melalui entitas mereka di Belanda, bukan di Indonesia. Artinya tidak ada dampak ekonomi langsung buat negara — tidak ada pajak yang masuk dari jutaan subscriber Indonesia yang bayar setiap bulan
Menteri Kominfo saat itu, Rudiantara, bahkan bilang bahwa keputusan blokir itu murni keputusan korporat Telkom — bukan posisi pemerintah. Seperti yang dilaporkan Jakarta Post: "Foreign platforms coming to Indonesia often think that they don't need Indonesian companies, so there is a sense of defeat. Netflix was pressured so that we could have a better standing in the negotiation."
Reasoning di atas betul ada, tapi saya pikir masih ada alasan lain yang lebih dari sekadar itu — dan itu datang dari sisi bisnis Telkom sendiri.
IP Content Rules the World
Sebelum masuk ke dinamika bisnis Telco, ada satu hal yang perlu dipahami dulu: kenapa Netflix — dan platform OTT lainnya — begitu powerful?
Jawabannya satu kata: IP. Intellectual Property.
Bisnis konten itu pada dasarnya adalah bisnis IP. Semakin banyak IP yang kamu miliki — karakter, franchise, universe, cerita — semakin besar kamu menguasai pasar. Dan pemain-pemain besar di industri ini sudah membangun portofolio IP mereka selama puluhan tahun, bahkan ada yang lebih dari satu abad.
Lihat saja siapa yang dominan sekarang:
- Disney — pionir konten sejak 1923. Strategi inorganiknya sangat agresif: akuisisi Pixar (2006), Marvel (2009), Lucasfilm/Star Wars (2012), dan 21st Century Fox (2019). Hasilnya? Salah satu portfolio IP terbesar di dunia — dari Mickey Mouse sampai Iron Man sampai Luke Skywalker. Market cap Disney saat ini sekitar $164 miliar, dengan Disney+ punya sekitar 125 juta subscriber global
- Netflix — pendatang baru yang mengubah semua aturan. Dimulai dari bisnis rental DVD, sekarang punya sekitar 7.865 judul di library-nya dengan lebih dari 4.400 original content. 325 juta subscriber global per akhir 2025, revenue $45 miliar per tahun. Market cap-nya kini melampaui Disney, Comcast, Warner Bros. Discovery, dan Fox — digabungkan. Dan baru-baru ini Netflix bahkan mengakuisisi Warner Bros. senilai $82,7 miliar untuk memperkuat portofolio IP mereka lebih jauh
- Amazon Prime Video — lebih dari 200 juta subscriber global, didukung ekosistem Amazon yang luar biasa besar
- Warner Bros. Discovery / HBO Max — rumah bagi IP legendaris seperti Harry Potter, Game of Thrones, DC Universe, dan banyak lagi
- Comcast / NBCUniversal — punya Peacock sebagai streaming platform, dengan content spending terbesar di industri: $37 miliar per tahun
- Apple TV+ — pemain yang lebih baru, tapi dengan kekuatan finansial Apple yang tak perlu dipertanyakan. Strateginya beda dari yang lain — kualitas, bukan kuantitas
Secara keseluruhan, industri ini menghabiskan lebih dari $210 miliar untuk content di 2024 saja — menurut laporan KPMG. Dan angka itu terus naik.
Ini adalah industri yang dikuasai oleh mereka yang punya IP terbanyak dan terkuat. Dan hampir semuanya berasal dari Amerika.
OTT itu Pisau Bermata Dua untuk Telco
Bagi Telco seperti Telkom, platform OTT — Netflix, YouTube, WhatsApp — itu ibarat pisau bermata dua. Dan ini penting untuk dipahami supaya kita bisa melihat kenapa blokir Netflix itu bukan semata-mata soal regulasi.
Di satu sisi, OTT adalah ancaman. Voice, SMS, telepon — semua bisnis inti Telco perlahan digerus begitu internet berbasis data meledak. Orang berhenti telepon biasa karena ada WhatsApp. Orang berhenti SMS karena ada iMessage dan Telegram. Revenue dari sana terus turun.
Di sisi lain, OTT juga jadi alasan orang butuh lebih banyak data. Dan di sinilah peluang Telco terbuka lebar.
Yang jadi kunci di bisnis data adalah payload — seberapa besar dan seberapa sering pengguna top up atau beli paket yang lebih besar. Dan yang paling efektif mendorong payload adalah konten. Semakin menarik konten yang bisa diakses, semakin besar kebutuhan data pengguna. Makanya Telco di seluruh dunia berlomba-lomba menjalin kerjasama dengan content provider, dengan berbagai cara:
- Kerja sama dengan OTT dan content provider, lalu bikin paket bundling — biasanya dengan skema MG (minimum guarantee) yang nilainya bisa sampai triliunan
- Bikin OTT sendiri dan produksi IP sendiri, biasanya lewat kerjasama dengan berbagai production house
- Bahkan ada yang meniru model subscription untuk konten mereka sendiri
Yang penting bagi Telco: payload naik, ARPU naik. ARPU atau Average Revenue Per User adalah salah satu metrik paling penting bagi Telco — kalau pengguna beli paket data lebih besar karena ada konten yang mereka mau, ARPU naik. Dan konten premium seperti Netflix adalah salah satu driver terkuat untuk itu.
Masalah yang Tidak Kelihatan dari Permukaan
Tapi ada satu problem besar di balik semua ini: biaya interkoneksi.
Waktu itu, semua konten Netflix yang dinikmati pengguna Indonesia jalurnya melewati hub di Singapura dulu, baru landing ke sini. Artinya setiap kali pengguna IndiHome atau Telkomsel streaming Netflix, traffic-nya keluar dulu ke luar negeri — dan itu mahal. Biaya interkoneksinya bengkak. Sementara Telkom tidak bisa membatasi kapan dan berapa lama pengguna mengakses konten. Kebayang kan betapa besarnya angka itu?
Dan ada dilema lain di sisi FO seperti IndiHome — FUP pengguna cepat habis karena streaming. Begitu FUP habis, kecepatan turun drastis, pengguna komplain, bahkan bisa churn. Ini problem serius bagi Telkom yang sedang membangun bisnis FO-nya.
Solusinya adalah cache server atau POP server — server yang ditempatkan langsung di dalam data center Telkom, yang tugasnya menyimpan konten Netflix secara lokal. Jadi ketika pengguna mengakses, kontennya diambil dari server yang sudah ada di dalam jaringan Telkom sendiri — lebih cepat, dan jauh lebih murah dari sisi biaya interkoneksi. Netflix punya program khusus untuk ini, namanya Open Connect, yang memang dirancang untuk kerjasama dengan ISP di seluruh dunia.
Tapi ini bukan sekadar soal menaruh server. Dari pengalaman mereka dengan YouTube sebelumnya — yang bisa masuk begitu saja tanpa deal bisnis yang jelas — Telkom belajar bahwa kali ini harus ada kesepakatan yang jauh lebih komprehensif. Bukan hanya teknis, tapi juga bisnis. They have to invest, they have to have a deal economically. Dan itulah yang membuat negosiasi dengan Netflix butuh waktu yang tidak sebentar.
Perjalanan Dua Tahun Lebih
Dari pertemuan pertama dengan Tizar Patria di Singapura, saya mulai mengawal proses ini secara serius. Bukan proses yang lurus — banyak dinamika, banyak bolak-balik di tengah jalan.
Saya berdiskusi panjang dengan tim Telin, sampai langsung dengan CEO Telin saat itu, Budi Satria — yang sekarang menjabat Direktur Wholesale & International Business di Telkom. Ada koordinasi dengan Edward Ying, Director of Planning & Transformation Telkomsel saat itu. Dan semua ini akhirnya menjadi concern langsung Ririek Adriansyah — CEO Telkom Indonesia kala itu.
Netflix punya prinsipnya, Telkom punya kebutuhannya, pemerintah punya syarat-syaratnya. Satu per satu diurai, satu per satu diselesaikan. Dan seperti kebanyakan negosiasi besar, yang kelihatan dari luar jauh lebih simple dari yang sebetulnya terjadi di dalamnya.
18 Agustus 2020
Dan akhirnya — deal itu terjadi.
Tanggal 18 Agustus 2020, Netflix resmi dibuka di jaringan Telkom. Sehari setelah hari kemerdekaan — tadinya memang diincar 17 Agustus, tapi molor sehari. Haha. Yang penting terjadi.
Beberapa hal yang akhirnya disepakati antara lain:
- Netflix berkomitmen tidak menayangkan konten yang dilarang — pornografi anak, terorisme, dan sejenisnya
- Netflix setuju merespons keluhan pelanggan dalam 24 jam
- Netflix mulai comply dengan kewajiban pajak setelah pemerintah memberlakukan PPN untuk layanan streaming digital
- Kesepakatan bisnis dan teknis yang komprehensif — termasuk soal cache server yang sudah lama jadi bagian dari negosiasi
Lima tahun. Dari diblokir di Januari 2016, sampai dibuka di Agustus 2020.
Saya ikut bagian dari perjalanan itu — dari Metranet, mengawal inisiatif ini sejak awal sampai akhirnya bisa terjadi. Tidak semua ceritanya bisa saya tulis di sini, tapi setidaknya ini adalah versi yang bisa saya ceritakan hari ini.



Komentar