Start With Why — Buku yang Saya Beli Tanpa Banyak Pikir
Ada satu fase dalam hidup saya, di mana keputusan beli buku itu simpel banget.
Kalau ada label New York Times Bestseller… ya sudah, ambil aja.
Dan salah satu buku yang saya beli dengan cara seperti itu adalah Start with Why.
Gak ada ekspektasi macam-macam.
Gak juga karena lagi cari “purpose”.
Just another good book to read.
Waktu Itu, Semuanya Terasa Straightforward
Saya baca. Saya paham.
Golden Circle — Why, How, What.
Simple.
- orang kebanyakan ngomongin What
- sebagian ngerti How
- very few start from Why
Masuk akal.
Tapi ya… sudah.
Saya tutup bukunya, dan lanjut kerja seperti biasa.
Karena Waktu Itu, Saya Lagi Sibuk Bangun Sesuatu
Di fase itu, hidup saya cukup straightforward:
- build product
- push growth
- kejar target
- make things work
Dan jujur, itu works.
Everything was moving forward.
Sampai Ada Satu Fase… Di Mana Semua Masih Jalan, Tapi Rasanya Berbeda
Fast forward beberapa tahun.
Saya masih melakukan hal yang sama:
- build
- scale
- expand
Tapi kali ini, level-nya beda.
Di Posdigi, portfolio yang kita jalankan juga makin luas:
- Digital Payment
- Digital Channel Aggregator
- Digital Solutions
Semua bergerak cepat.
Opportunity datang terus.
Dan secara angka, semuanya terlihat baik-baik saja.
Tapi ada satu hal yang mulai terasa…
Bukan masalah besar.
Bukan sesuatu yang langsung kelihatan di dashboard.
Lebih ke perasaan yang sulit dijelaskan:
kita sibuk… tapi apakah kita benar-benar jelas arah kita?
Momen Itu Biasanya Datang Diam-Diam
Bukan di meeting besar.
Bukan di boardroom.
Tapi di momen-momen kecil:
- ketika harus memilih antara dua opportunity yang sama-sama menarik
- ketika roadmap terasa penuh, tapi gak semua terasa penting
- ketika tim mulai nanya, “ini sebenarnya kita ke mana?”
Dan di situ, saya mulai keinget sesuatu.
Golden Circle.
Ternyata, Masalahnya Bukan di What atau How
Kalau saya jujur lihat ke dalam:
- kita tahu apa yang kita bangun
- kita tahu bagaimana cara bangunnya
Tapi…
kita gak selalu spend cukup waktu untuk benar-benar jelas di Why.
Dan ini bukan hal yang langsung terasa di awal.
Ini baru terasa ketika:
- semuanya mulai besar
- semuanya mulai kompleks
- semuanya mulai cepat
Dari Situ, Cara Saya Mulai Berubah
Pelan-pelan, saya mulai pakai “Why” bukan sebagai konsep… tapi sebagai alat.
Bukan untuk inspirasi.
Tapi untuk decision.
Misalnya:
- ini kita ambil atau enggak?
- ini kita kerjakan sekarang atau nanti?
- ini sebenarnya penting… atau cuma terlihat menarik?
Dan surprisingly, yang paling sering terjadi adalah:
kita harus bilang “no”.
Dan Itu Tidak Mudah
Karena realitanya:
- semua opportunity terlihat bagus
- semua ide bisa di-justify
- semua bisa dibuat business case
Tanpa “Why”, semuanya terasa penting.
Dan itu capek.
Satu Insight yang Baru Kerasa Sekarang
Kalau saya tarik satu hal dari buku ini, yang baru benar-benar saya rasakan sekarang:
“Why” itu bukan tentang menemukan jawaban besar.
Tapi tentang punya keberanian untuk memilih.
Memilih mana yang kita lakukan.
Dan lebih penting lagi—mana yang kita tidak lakukan.
Lucunya, Bukunya Gak Berubah
Buku ini sama seperti waktu pertama kali saya baca.
Gak ada yang berubah.
Tapi saya yang berubah.
Dan mungkin memang seperti itu:
ada buku yang kita baca sekali… lalu selesai
ada buku yang kita baca… lalu dia diam, nunggu kita siap
Dan “Start With Why” buat saya, masuk kategori kedua.
Closing
Sekarang kalau saya lihat lagi, buku ini bukan tentang leadership yang kompleks.
Justru sebaliknya.
Dia tentang sesuatu yang sangat sederhana… tapi sulit dilakukan secara konsisten:
clarity.
Di dunia yang:
- cepat
- penuh distraksi
- dan over-execution
clarity jadi sesuatu yang mahal.
Dan mungkin, pada akhirnya:
kita tidak kekurangan speed.
kita hanya tidak boleh kehilangan arah.



Komentar