0%
3 min left

Leaders Eat Last — Tentang Leadership yang Tidak Selalu Nyaman, Tapi Perlu

Leaders Eat Last — Tentang Leadership yang Tidak Selalu Nyaman, Tapi Perlu
← Kembali ke Blog


Ada pola yang mulai saya sadari.

Beberapa buku dari Simon Sinek itu… bukan tipe buku yang langsung “kena”.

Bukan karena isinya gak bagus.
Tapi karena timing-nya.

Dan Leaders Eat Last buat saya, masuk kategori itu.


Awalnya, Terasa Seperti “Good Leadership Theory”

Waktu pertama kali baca, saya nangkap idenya.

Leadership itu tentang:

  • trust
  • safety
  • putting people first

Dan konsep utamanya:

leader makan terakhir — bukan karena simbolik, tapi karena responsibility.

Masuk akal.

Tapi kalau jujur:

terasa seperti “ya memang harus begitu kan?”

Nothing too surprising.


Sampai Masuk ke Fase Memimpin yang Lebih “Real”

Semakin lama memimpin, especially di environment yang:

  • cepat
  • target-driven
  • penuh pressure

saya mulai melihat sisi lain dari leadership.

Bahwa:

jadi leader itu bukan cuma soal direction. Tapi soal beban.

Dan yang menarik…

beban itu sering kali tidak terlihat.


Ada Satu Realization yang Lumayan Kena

Di beberapa momen, saya mulai sadar:

Sebagai leader, kita punya privilege:

  • akses informasi lebih dulu
  • punya control lebih besar
  • bisa ambil keputusan

Tapi di saat yang sama:

kita juga punya responsibility untuk “menahan” banyak hal.

  • uncertainty
  • tekanan
  • bahkan kadang frustration

Supaya tim tetap bisa jalan dengan stabil.

Dan di situ, konsep “leaders eat last” mulai terasa beda.


Ini Bukan Soal Makan Terakhir. Ini Soal Siapa yang Menyerap Risiko Duluan

Kalau saya simplify:

Leadership itu bukan tentang siapa yang paling depan menikmati hasil.
Tapi siapa yang paling depan menyerap tekanan.

Dan jujur, ini tidak selalu nyaman.

Karena ada momen di mana:

  • kita harus ambil keputusan yang tidak populer
  • kita harus protect tim dari hal yang mereka bahkan gak tahu
  • kita harus tetap terlihat tenang, padahal di dalam belum tentu

Relate ke Journey Saya

Di PosDIGI, dengan portfolio:

  • Digital Payment
  • Digital Channel Aggregator
  • Digital Solutions

banyak keputusan yang sifatnya:

  • cepat
  • high impact
  • kadang incomplete information

Dan di titik itu, saya mulai sadar:

tim tidak butuh leader yang paling pintar di ruangan.
mereka butuh leader yang membuat mereka merasa aman untuk perform.

Karena tanpa itu:

  • orang jadi defensif
  • komunikasi jadi tidak terbuka
  • trust pelan-pelan hilang

Trust Itu Dibangun Bukan dari Kata-Kata

Salah satu hal yang saya pelajari (dan masih terus belajar):

Trust itu bukan dibangun dari:

  • speech
  • townhall
  • atau statement besar

Tapi dari hal-hal kecil yang konsisten:

  • apakah kita stand up untuk tim kita
  • apakah kita ambil tanggung jawab ketika ada masalah
  • apakah kita kasih credit ketika tim deliver

Hal-hal yang mungkin kelihatan kecil…
tapi efeknya besar.


Yang Sulit dari Leadership Itu Justru yang Tidak Kelihatan

Kalau dipikir-pikir, banyak hal dari leadership itu invisible:

  • decision yang tidak jadi diambil
  • risiko yang berhasil dihindari
  • konflik yang tidak pernah muncul ke permukaan

Dan itu semua bagian dari “eating last”.


Insight yang Paling Kerasa

Kalau saya harus ringkas satu hal dari buku ini:

Leadership itu bukan tentang posisi. Tapi tentang siapa yang kita pilih untuk dilindungi terlebih dahulu.

Dan jawabannya harusnya jelas:

tim kita.


Closing

“Leaders Eat Last” bukan buku yang ngajarin framework.

Dia lebih ke…

reminder.

Bahwa di tengah:

  • target
  • growth
  • pressure

kita tidak boleh lupa:

tanpa trust, semua itu tidak sustain.


Dan mungkin, pada akhirnya:

jadi leader itu bukan tentang jadi yang paling di depan saat semuanya berjalan baik…
tapi jadi yang tetap berdiri ketika semuanya mulai berat.

Komentar

Memuat komentar…