Selamat Ulang Tahun Yang Ke-74 Tahun Emih

Postingan ini saya tulis sebagai refleksi, sekaligus pengingat bahwa hari ini, 18 September, seharusnya menjadi hari ulang tahun Emih yang ke-74.
Saya lahir di keluarga yang sederhana. Dan kalau boleh jujur, satu-satunya privilege terbesar dalam hidup saya adalah memiliki seorang ibu seperti Emih, perempuan yang kuat menghadapi berbagai masa kehidupan selama 74 tahun, termasuk lebih dari 10 tahun terakhir yang ia habiskan bersahabat dengan rasa sakit.
Sekitar tahun 2016-2017, tidak lama setelah pernikahan saya dengan Ayunda, kami akhirnya memberanikan diri untuk memeriksakan Emih secara serius. Selama setahun sebelumnya Emih sudah mulai kesulitan berjalan, tapi kami belum tahu penyebab pastinya.
Di RS Royal Taruma Daan Mogot, diagnosanya keluar: kanker.
Saya masih ingat betul momen itu. Air mata saya turun tanpa bisa berhenti. Saya jarang sekali menangis — terakhir sebelum itu adalah saat lulus SMA, memeluk Emih sambil menangis. Dan di hari itu, perasaan yang sama kembali, tapi jauh lebih berat. Hati saya hancur karena saya masih tidak mau menerima kenyataannya.
Sejak saat itulah saya mulai kembali memberikan perhatian lebih kepada Emih, sebaik yang bisa saya lakukan.
Kami tidak memilih operasi. Sesuai keinginan Emih, kami lebih memilih jalur herbal dan pengobatan alternatif. Dan sejak saat itulah Emih mulai rutin berobat ke RS Holistic di Purwakarta — kadang menginap dua minggu, kadang seminggu, lalu pulang, lalu kembali lagi. Begitu terus selama lebih dari enam tahun, sampai RS Holistic itu rasanya sudah seperti rumah kedua kami.
Tidak ada tindakan bedah. Hanya terapi dan obat herbal setiap hari — rutinitas yang sudah seperti kontrak yang tidak bisa putus. Dokter Fatimah Direktur Utama RS Holistic pernah bilang dengan jujur: ini bukan untuk penyembuhan. Ini untuk bertahan.
Emih bertahan, dengan cara yang sangat Emih. Sampai akhirnya semua itu berubah di bulan ini.
Satu minggu sebelum ulang tahunnya, Emih masih sempat minta jalan-jalan di tanggal 19 September. Masih sempat ikut pengajian di beberapa hari terakhir. Masih ada, masih hadir, masih Emih yang saya kenal.
Tapi pada 16 September 2026, pukul 17.50, dua hari sebelum ulang tahunnya yang ke-74, Emih pergi.
Saya tidak menyangka. Meski sudah lebih dari 10 tahun kami tahu kondisinya, tetap saja tidak ada yang bisa benar-benar mempersiapkan hati untuk momen itu. Hati saya runtuh lagi, dan air mata saya tidak berhenti, bukan karena tidak ikhlas, tapi karena ada rasa menyesal yang mengganjal: bahwa saya merasa belum cukup menjaga beliau.
**Selamat ulang tahun, Emih.**
Kami di sini akan selalu rindu. Akan selalu mendoakan. Dan kami yakin Emih sudah berada di tempat yang terbaik, empat yang selayaknya untuk perempuan sekuat Emih.

Komentar