0%
7 min left

Pokemon Go, Augmented Reality, dan Kenapa Saya Pikir Ini Lebih dari Sekadar Game

Pokemon Go, Augmented Reality, dan Kenapa Saya Pikir Ini Lebih dari Sekadar Game
← Kembali ke Blog

 Jujur, saya awalnya skeptis.

Pokemon Go, Augmented Reality, dan Kenapa Saya Pikir Ini Lebih dari Sekadar Game

Waktu pertama kali dengar orang-orang di kantor ribut soal Pokemon Go, reaksi pertama saya sederhana: ah, ini pasti hype sesaat. Game mobile yang viral lalu hilang dalam beberapa minggu, seperti yang sudah-sudah. Flappy Bird. Clash of Clans. Datang, trending, pergi.

Tapi kemudian saya download juga.

Dan pagi berikutnya, saya sudah jalan kaki di sekitar Monas, pegang handphone, mata setengah di layar setengah di jalan, berburu Pokemon sebelum jam kerja mulai.

Iya. Saya kena juga.


Indonesia — Negara Pertama di Asia yang Main

Ini yang tidak banyak orang tahu: Indonesia adalah negara pertama di Asia yang bisa memainkan Pokemon Go secara resmi. Game itu diluncurkan 6 Juli 2016 di Amerika, Australia, dan New Zealand. Lalu server-nya langsung overload. Niantic menghentikan rollout global sementara. Semua negara lain menunggu.

Tapi orang Indonesia tidak mau tunggu. Mereka download APK-nya secara tidak resmi, install manual, dan langsung main — bahkan sebelum game itu resmi ada di sini. Seperti yang dilaporkan Jakarta Globe di awal Juli 2016: ribuan gamer muda Indonesia sudah bermain Pokemon Go jauh sebelum peluncuran resminya. Server overloaded, bug di mana-mana, tapi tidak ada yang peduli.

Dan ketika Niantic akhirnya mulai rollout global di Agustus 2016, Indonesia masuk lebih awal dari negara-negara Asia lainnya. Hasilnya? Indonesia masuk 5 besar negara dengan download Pokemon Go terbanyak di dunia — di belakang Amerika, Brazil, India, dan Mexico. Negara kita mengambil 5% dari total download global. Tidak main-main.

Yang lebih menarik lagi: komunitas Pokemon Go Indonesia sebetulnya sudah terbentuk sebelum game-nya diluncurkan secara global. Dipicu oleh hoaks April Mop dari Google tentang game Pokemon berbasis lokasi, sekelompok penggemar sudah membentuk grup dan mulai gathering rutin di tempat-tempat seperti Monas dan GBK — menanti dengan sabar sesuatu yang belum ada. Dan ketika game-nya akhirnya betul-betul hadir, mereka sudah siap. Seperti yang diceritakan komunitas PKMN-id: euforia yang meledak bukan sesuatu yang datang tiba-tiba — ini adalah antusiasme yang sudah lama dipupuk.


Apa yang Betul-Betul Terjadi di Monas Pagi Itu

Saya mau cerita sedikit tentang pengalaman saya sendiri, karena ini yang membuat saya mulai berpikir lebih serius tentang Pokemon Go.

Suatu pagi — ini masih minggu pertama setelah game resmi bisa dimainkan di Indonesia — saya jalan pagi di sekitar Monas sambil main. Yang saya tidak ekspektasikan adalah: tidak sendirian. Ada banyak orang lain yang melakukan hal yang sama. Dari anak muda sampai orang yang usianya sudah cukup matang. Dari yang pakai sepatu lari sampai yang pakai kemeja kantor.

Dan yang paling menarik: kami ngobrol. Orang-orang yang tidak saling kenal sebelumnya, tiba-tiba punya topik pembicaraan yang sama. "Di sana ada Snorlax!" "Pokestop yang di situ bagus." "Kamu tim apa?" Dalam hitungan menit, ada percakapan yang terjadi di antara orang-orang asing di ruang publik — sesuatu yang di Jakarta, yang notabene kota besar dengan ritme yang cepat, tidak selalu mudah terjadi.

Dan itu baru dari satu sudut Monas, di satu pagi biasa.

Bayangkan ini terjadi di GBK, di Ancol, di taman-taman kota di seluruh Indonesia — di waktu yang bersamaan. Ini bukan sekadar game. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi.


Augmented Reality — Teknologi yang Selama Ini Cuma Ada di Konsep

Sebelum Pokemon Go, augmented reality adalah teknologi yang lebih banyak ada di presentasi PowerPoint dan artikel tech blog daripada di kehidupan nyata. Google Glass diluncurkan 2014 — dan meski menarik secara konsep, tidak pernah benar-benar masuk ke kehidupan sehari-hari orang biasa. Microsoft HoloLens ada, tapi harganya ratusan juta dan target penggunanya adalah enterprise, bukan konsumen umum.

Yang dilakukan Pokemon Go adalah sesuatu yang sederhana tapi revolusioner: ia membuat AR masuk ke kantong semua orang. Tidak butuh headset khusus. Tidak butuh device mahal. Cukup smartphone — yang sudah dimiliki hampir semua orang — dan GPS, yang sudah built-in. Tiba-tiba, AR bukan lagi konsep futuristik. AR ada di tangan kamu, sekarang, hari ini.

Seperti yang disimpulkan Jabil dalam analisis AR mereka: "The first validation of consumer augmented reality technology use came from the explosively popular AR app Pokémon Go. Before then, nobody had thought about AR experiences or applications on a smartphone." Pokemon Go membuktikan sesuatu yang sebelumnya hanya dihipotesakan: orang mau menggunakan AR, kalau use case-nya cukup menarik.

Dan ini bukan tentang Pokemon-nya. Ini tentang prinsip di baliknya: dunia nyata bisa menjadi canvas untuk pengalaman digital. Dan itu adalah perubahan yang implikasinya jauh melampaui game.


Kenapa Ini Lebih dari Sekadar Game

Saya bekerja di industri telekomunikasi dan konten digital. Jadi mungkin wajar kalau saya langsung melihat Pokemon Go bukan dari sudut pandang pemain, tapi dari sudut pandang industri.

Dan dari sudut pandang itu, yang terjadi dengan Pokemon Go sangat menarik.

Pertama, ini membuktikan bahwa orang mau bergerak karena konten digital. Bukan hanya scroll di sofa. Bukan hanya duduk di depan layar. Tapi betul-betul berdiri, jalan, keluar rumah — karena ada sesuatu yang menarik mereka ke dunia nyata. Ini adalah behavior shift yang sangat signifikan bagi siapapun yang bergerak di bisnis mobile dan konten.

Kedua, ini adalah proof of concept untuk location-based commerce. Di Amerika, McDonald's menjadi sponsor resmi Pokemon Go — artinya restaurant mereka menjadi Pokestop dan Gym. Dampaknya langsung terasa: traffic ke outlet-outlet McDonald's naik. Ini adalah blueprint baru untuk bagaimana bisnis fisik bisa memanfaatkan ekosistem digital untuk mendatangkan pelanggan. Di Indonesia, potensi ini belum disentuh sama sekali.

Ketiga, ini menunjukkan kekuatan IP yang dikombinasikan dengan teknologi yang tepat. Pokemon bukan franchise baru. Karakter-karakternya sudah ada sejak 1996 — lebih dari 20 tahun. Tapi ketika IP yang sudah punya fanbase masif itu dikombinasikan dengan teknologi AR yang tepat dan mekanisme game yang sederhana, hasilnya adalah fenomena global. Ini adalah pelajaran besar tentang bagaimana IP dan teknologi bisa saling memperkuat.

Keempat, dan ini yang paling menarik buat saya: AR punya potensi yang sangat besar di luar gaming. Bayangkan AR untuk pariwisata — kamu berdiri di depan Candi Borobudur dan layar handphone-mu menampilkan rekonstruksi digital candi itu di masa kejayaannya. Bayangkan AR untuk retail — kamu mengarahkan kamera ke produk di toko dan langsung muncul informasi harga, review, dan ketersediaan. Bayangkan AR untuk pendidikan — anak-anak belajar sejarah dengan melihat visualisasi langsung di depan mereka, bukan hanya membaca teks di buku.

Semua itu bukan fiksi ilmiah. Secara teknologi, semuanya sudah mungkin hari ini — di smartphone yang sama yang dipakai orang-orang main Pokemon Go di Monas pagi itu.


Yang Saya Khawatirkan Juga

Tentu saja, tidak semua dari ini mulus dan indah.

Beberapa hari setelah game diluncurkan resmi di Indonesia, pemerintah sudah mulai mengeluarkan larangan. Instansi militer dan kepolisian melarang game ini dimainkan di lingkungan mereka — karena betul-betul ada pemain yang masuk ke markas militer dan kantor polisi untuk mengejar Pokemon. Di luar negeri, sudah ada kecelakaan dan bahkan kematian yang terkait dengan orang yang terlalu fokus ke layar handphone saat main. Dikutip dari berbagai laporan: pejabat Indonesia bahkan sempat menyebutnya sebagai ancaman keamanan nasional.

Ada juga pertanyaan yang lebih dalam soal privasi. Untuk bisa berjalan, Pokemon Go butuh akses ke kamera, GPS, dan data lokasi yang sangat detail. Niantic — perusahaan yang mengembangkan game ini, spin-off dari Google — pada dasarnya sedang membangun peta geospasial yang sangat kaya dari seluruh dunia, dengan bantuan ratusan juta pemain yang secara sukarela berjalan sambil merekam lingkungan sekitar mereka.

Apakah itu trade-off yang kita sadari ketika menerima terms & conditions-nya? Kemungkinan besar tidak.


Hype Akan Berlalu, Tapi Teknologinya Tidak

Saya cukup yakin bahwa dalam beberapa bulan ke depan, hype Pokemon Go akan mulai turun. Ini hampir pasti. Semua hype punya lifecycle-nya. Orang akan bosan, akan beralih ke hal lain, dan Monas di pagi hari akan kembali ke kondisi normalnya.

Tapi yang tidak akan hilang adalah preseden yang sudah dibuat oleh game ini.

Pokemon Go sudah membuktikan bahwa AR mobile bisa bekerja dalam skala masif. Sudah membuktikan bahwa orang mau mengadopsinya. Sudah membuktikan bahwa ada model bisnis yang bisa dibangun di atasnya. Dan sudah membuktikan bahwa line antara dunia digital dan dunia fisik — yang selama ini kita pikir terpisah — sebenarnya jauh lebih tipis dari yang kita bayangkan.

Di industri konten dan telco, ini adalah sinyal yang harus diperhatikan dengan serius. Bukan untuk ikut-ikutan bikin game berbasis AR. Tapi untuk bertanya: pengalaman apa yang bisa kita ciptakan untuk pengguna kita dengan menggunakan prinsip yang sama?

Karena kalau Pokemon — sebuah franchise yang sudah ada 20 tahun — bisa menggerakkan ratusan juta orang untuk jalan kaki sambil pegang handphone di pagi hari, saya cukup yakin ada hal-hal lain yang belum kita bayangkan yang bisa dilakukan dengan teknologi yang sama.

Saya belum tahu apa itu. Tapi saya cukup yakin akan ada.

Sekarang kalau kamu maaf, ada Pidgeot yang muncul di dekat kantor saya dan saya tidak mau ketinggalan.

Komentar

Memuat komentar…