0%
7 min left

BBM, Twitter, dan Pertanyaan Tentang Bagaimana Kita Berkomunikasi

BBM, Twitter, dan Pertanyaan Tentang Bagaimana Kita Berkomunikasi
← Kembali ke Blog

Saya lagi iseng mengamati orang-orang di sekitar saya hari ini.

BBM, Twitter, dan Pertanyaan Tentang Bagaimana Kita Berkomunikasi

Di kantor, hampir semua orang megang BlackBerry. Jari-jari mereka bergerak cepat di atas keyboard QWERTY kecil itu. Lampu merah berkedip. Notifikasi BBM masuk. Seseorang langsung buka, baca, balas — kadang tanpa sadar jari sudah bergerak sebelum otak selesai memproses isinya.

Di waktu yang sama, di timeline Twitter saya, ada puluhan tweet masuk setiap menitnya. Orang membicarakan berita. Orang bercanda. Orang curhat. Orang share link artikel. Semua dalam 140 karakter.

Dan saya mulai bertanya-tanya: sebetulnya, apa yang sudah berubah dari cara kita berkomunikasi?


BlackBerry dan Alasan Kita Semua Mau Punya PIN

Kalau kamu di Indonesia hari ini dan tidak punya BlackBerry, ada satu momen yang pasti pernah kamu alami: seseorang minta PIN kamu, kamu bilang tidak punya BlackBerry, dan ekspresi orang itu berubah — campuran antara kaget dan sedikit kasihan.

Itu bukan lebay. Itu fakta sosial di Indonesia 2011.

BlackBerry bukan lagi sekadar gadget. Di Indonesia, BlackBerry sudah jadi semacam tiket masuk ke ekosistem komunikasi tertentu. Dan inti dari ekosistem itu adalah BBM — BlackBerry Messenger. Per Mei 2011, RIM mengklaim sudah ada 43 juta pengguna aktif BBM di seluruh dunia. Dan sebagian besar dari mereka, kalau kita lihat proporsinya, ada di Indonesia.

Kenapa BBM begitu dominan di sini? Saya pikir jawabannya ada di satu fitur kecil yang kelihatannya sepele tapi ternyata sangat powerful: tanda "D" dan "R".

D = Delivered. R = Read.

Sebelum BBM, kita bisa pura-pura tidak menerima pesan. SMS masuk, kita bisa bilang "oh saya tidak terima tadi." Dengan BBM, strategi itu runtuh. Begitu ada tanda R di sebelah pesan kamu, lawan bicara tahu kamu sudah baca. Tidak ada lagi alibi. Dan ini, secara tidak langsung, mengubah dinamika komunikasi kita secara fundamental. Kita tidak bisa lagi menghilang dari percakapan semudah dulu. Kita dituntut untuk selalu ada dan responsif.

Seperti yang diingat banyak orang yang pernah pakai BBM di era ini, fitur read receipt ini menciptakan satu fenomena baru yang belum pernah ada sebelumnya: ketakutan di-read tanpa dibalas, yang kemudian memunculkan tekanan sosial baru untuk selalu merespons.


Twitter dan 140 Karakter yang Mengubah Cara Kita Berpikir

Sementara BBM mengubah cara kita berkomunikasi secara private, Twitter sedang mengubah cara kita berkomunikasi secara publik.

Dan Indonesia — khususnya Jakarta — ada di depan kurva ini.

Data yang mulai muncul tahun ini sangat mengejutkan: di antara semua kota di dunia, Jakarta adalah kota dengan jumlah tweet terbanyak. Bukan New York. Bukan Tokyo. Bukan London. Jakarta. Dan Bandung ada di posisi keenam. Seperti yang dicatat Semiocast, firma riset asal Paris: Indonesia masuk dalam daftar lima besar negara paling aktif di Twitter. Bayangkan — negara dengan tingkat penetrasi internet yang masih rendah, tapi aktivitas Twitter-nya salah satu tertinggi di dunia.

Ada penelitian menarik yang juga menemukan bahwa Indonesia punya tweets per user ratio tertinggi di dunia — artinya, pengguna Twitter Indonesia rata-rata nge-tweet lebih sering dari pengguna di negara mana pun. Kita tidak cuma ada di Twitter. Kita hidup di Twitter.

Tapi apa yang sesungguhnya menarik dari Twitter bukan angkanya. Yang menarik adalah apa yang dilakukan Twitter terhadap cara berpikir kita.

140 karakter itu bukan batasan yang menyulitkan. Itu adalah discipline. Kamu dipaksa untuk berpikir apa inti dari apa yang mau kamu sampaikan. Tidak ada ruang untuk basa-basi yang panjang. Tidak ada ruang untuk konteks yang berlebihan. Hanya inti. Dan ini, tanpa kita sadari, melatih cara kita memproses dan menyampaikan informasi — menjadi lebih padat, lebih cepat, lebih langsung.

Di sisi lain, 140 karakter juga terlalu sempit untuk nuansa. Kemarahan bisa terlihat lebih keras dari yang dimaksud. Ironi sering kali tidak tersampaikan. Dan ketidaksepakatan yang harusnya bisa didiskusikan dengan panjang — di Twitter langsung jadi konfrontasi dalam satu baris.


Dua Platform, Dua Cara Berkomunikasi, Satu Pertanyaan Besar

Yang menarik dari BBM dan Twitter adalah keduanya memenuhi kebutuhan komunikasi yang berbeda — tapi keduanya ada di tangan yang sama, di orang yang sama, di waktu yang bersamaan.

BBM adalah komunikasi yang intim dan tertutup — circle yang terbatas, percakapan yang private, eksklusif untuk mereka yang punya PIN kamu. Ada rasa keamanan dan kebersamaan di sana.

Twitter adalah komunikasi yang terbuka dan publik — kamu bicara ke semua orang, bahkan ke orang yang tidak kamu kenal. Ada rasa keterhubungan dengan dunia yang lebih luas di sana.

Dan kita, sebagai manusia modern di 2011, bergerak di antara keduanya terus-menerus. Pagi hari bales BBM group dari teman-teman dekat. Siang nge-tweet tentang apa yang sedang terjadi di sekitar. Malam bales BBM lagi. Scroll timeline Twitter sebelum tidur.

Yang saya perhatikan adalah ada sesuatu yang berubah dari cara kita memperlakukan komunikasi itu sendiri. Dulu, komunikasi adalah sesuatu yang kita lakukan di waktu tertentu — kita duduk, kita tulis surat, kita telepon. Sekarang, komunikasi adalah sesuatu yang terus terjadi, hampir tanpa henti, sepanjang hari.

Kita selalu on. Dan ini, tanpa kita sadari, punya implikasi yang cukup dalam.


"Always On" — Kenyamanan atau Beban Baru?

Saya ingin jujur tentang ini.

Ada sisi yang sangat menyenangkan dari semua ini. Kita bisa terhubung dengan orang-orang yang kita sayang kapan saja. Kita bisa tahu apa yang terjadi di dunia hampir secara real-time. Jarak geografis jadi terasa lebih kecil. Kita merasa lebih terhubung dari sebelumnya.

Tapi ada sisi lain yang mulai saya perhatikan — pada diri saya sendiri dan orang-orang di sekitar saya. Kita jadi sulit untuk tidak merespons. Kalau BBM masuk dan tidak kita balas dalam beberapa menit, ada rasa tidak nyaman. Kalau kita tidak nge-tweet seharian, ada perasaan seperti ketinggalan sesuatu. Kita mulai mengukur kehadiran sosial kita — bahkan sebagian dari harga diri kita — dari seberapa cepat kita merespons dan seberapa aktif kita di platform ini.

Penelitian yang mulai muncul di tahun-tahun ini mulai mengkonfirmasi apa yang kita rasakan secara intuitif. Studi yang dipublikasikan di jurnal komunikasi tahun ini menemukan bahwa orang yang menggunakan pesan teks secara intens mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi ketika tidak bisa mengakses platform komunikasi mereka. Kita mulai bergantung pada tools ini — bukan hanya sebagai alat, tapi sebagai bagian dari cara kita memvalidasi eksistensi sosial kita.

Ini bukan kritik terhadap BBM atau Twitter. Ini adalah pengamatan tentang bagaimana kita — sebagai manusia — berinteraksi dengan teknologi yang datang lebih cepat dari kemampuan kita untuk memahami dampaknya.


Lalu Komunikasi Kita Jadi Lebih Baik atau Lebih Buruk?

Ini adalah pertanyaan yang tidak punya jawaban sederhana. Dan saya rasa siapapun yang mengklaim punya jawaban pasti sedang terlalu menyederhanakan sesuatu yang kompleks.

Kita berkomunikasi lebih banyak dari sebelumnya. Tapi apakah kita berkomunikasi lebih baik? Itu pertanyaan yang berbeda.

Ada hal-hal yang kita dapatkan: kecepatan, aksesibilitas, kemampuan untuk terhubung dengan orang yang mungkin tidak pernah kita temui secara fisik, kemampuan untuk berbagi momen secara real-time.

Ada hal-hal yang mungkin kita korbankan: kedalaman percakapan, kemampuan untuk tidak ada, ruang untuk merenung sebelum merespons, dan mungkin — secara perlahan — kemampuan kita untuk duduk diam dan tidak berkomunikasi dengan siapapun sama sekali.

Saya tidak tahu ke mana ini akan berujung. Mungkin kita akan adapt dan menemukan keseimbangan baru. Mungkin platform-platform baru yang belum kita bayangkan akan datang dan mengubah semua ini lagi. Mungkin BlackBerry yang sekarang terasa begitu dominan suatu hari akan digantikan oleh sesuatu yang belum ada.

Yang saya tahu: ini adalah momen yang menarik untuk hidup di dalamnya. Dan sebagai seseorang yang selalu penasaran dengan bagaimana manusia berinteraksi satu sama lain — saya tidak bisa tidak memperhatikan semua ini dengan rasa kagum yang bercampur dengan sedikit kekhawatiran.

Kamu sendiri gimana? Sudah berapa lama kamu tidak mematikan notifikasi BBM sehari penuh?

Komentar

Memuat komentar…