Apa yang Sebenarnya Kita Kejar?

Pertanyaan itu sederhana. Tapi makin sering kita duduk diam — tanpa HP, tanpa notifikasi, tanpa scroll — makin susah juga menjawabnya.
Karena tanpa kita sadari, dunia sudah mengubah cara kita mendefinisikan "tujuan." Bukan lagi sesuatu yang datang dari dalam. Tapi sesuatu yang dikonfirmasi dari luar. Dari likes. Dari komentar. Dari seberapa banyak orang yang melihat kita.
Dan di sinilah semuanya mulai complicated.
Validation — Kebutuhan yang Paling Manusiawi, Tapi Juga Paling Berbahaya
Manusia secara natural membutuhkan validasi. Itu bukan kelemahan — itu memang hardwired dalam cara otak kita bekerja. Para psikolog menyebutnya social validation — dorongan untuk mencari pengakuan dari orang lain sebagai cara kita membentuk identitas dan mengambil keputusan.
Masalahnya, di era digital sekarang, mekanisme validasi itu sudah berubah bentuk secara drastis.
Setiap kali kita dapat like, otak kita melepaskan dopamin — hormon yang sama yang aktif ketika kita makan makanan enak atau mendapat kabar baik. Platform media sosial tahu ini. Mereka membangun sistem intermittent reinforcement — reward yang datang tidak terduga, seperti mesin slot — yang membuat kita terus kembali, terus scroll, terus posting, terus menunggu konfirmasi bahwa kita cukup.
Dan lama-lama, tanpa disadari, self-worth kita mulai bergantung pada angka-angka itu.
Ini yang oleh para ahli disebut validation addiction — sebuah pola di mana kita tidak lagi bisa merasa cukup dari dalam diri sendiri. Kita butuh approval dari luar untuk merasa valid. Dan setiap kali approval itu tidak datang, ada rasa kosong yang sangat nyata.
Brain Rot — Ketika Scroll Menjadi Default
Ada satu istilah yang belakangan ini cukup mengganggu: brain rot.
Oxford University Press menjadikannya Word of the Year 2024 — dan bukan tanpa alasan. Brain rot didefinisikan sebagai kemerosotan kondisi mental dan intelektual seseorang, terutama akibat konsumsi berlebihan terhadap konten digital yang trivial dan tidak menantang.
Riset yang dipublikasikan di jurnal Brain Sciences (2025) menemukan bahwa brain rot berdampak nyata: emotional desensitization, cognitive overload, dan negative self-concept. Attention span memendek. Kemampuan decision-making melemah. Dan yang paling alarming — kemampuan untuk duduk diam dengan pikiran sendiri, tanpa stimulasi eksternal, semakin hilang.
Kita sudah terbiasa dengan doomscrolling — scroll tanpa tujuan, tanpa henti — sampai itu menjadi default state otak kita ketika tidak ada yang dilakukan.
Yang ironis? Semakin banyak konten yang dikonsumsi, semakin orang merasa less fulfilled. Bukan lebih. Karena konten itu tidak mengisi — konten itu hanya mengalihkan.
Generasi yang Berbeda, Masalah yang Makin Kompleks
Satu hal yang membuat ini semua semakin menarik untuk dipikirkan adalah bagaimana setiap generasi mengalaminya dengan cara yang berbeda.
Gen Y (Millennials) tumbuh di dua dunia sekaligus. Mereka mengenal dunia sebelum internet, tapi juga yang pertama kali merasakan bagaimana social media mengubah cara bekerja, berhubungan, dan mendefinisikan sukses. Mereka tahu bedanya — tapi juga paling rentan terjebak di antara dua cara berpikir yang sering kali bertentangan.
Gen Z adalah digital natives yang tumbuh saat social media sudah menjadi infrastruktur kehidupan. Mental health awareness adalah salah satu defining trait mereka — mereka lebih terbuka bicara soal anxiety dan depression dibanding generasi sebelumnya. Tapi mereka juga yang paling terpapar tekanan validasi online, social comparison, dan FOMO secara konsisten sejak usia sangat muda.
Gen Alpha — ini yang paling fascinating sekaligus paling perlu diperhatikan. Mereka adalah generasi pertama yang benar-benar fully digital native — lahir langsung ke dunia yang sudah ada AI, voice assistant, dan infinite scroll. Buat mereka, teknologi bukan tool. Teknologi adalah environment. Identity mereka terbentuk lebih fluid, lebih cepat, lebih dipengaruhi algoritma daripada pengalaman nyata di dunia luar.
Yang perlu dipahami adalah ini bukan soal generasi mana yang "lebih baik" atau "lebih buruh." Ini soal bagaimana setiap generasi membutuhkan pendekatan yang berbeda — dalam parenting, dalam pendidikan, dalam leadership, dalam komunikasi sehari-hari.
Tiga Fase yang Dialami Banyak Orang — Tanpa Disadari
Kalau kita jujur, banyak dari kita sebetulnya sedang hidup di tiga fase sekaligus. Dan mungkin itulah sebabnya banyak yang merasa exhausted tanpa tahu persis alasannya.
Fase kemarin — bagian dari hidup yang tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada keputusan yang tidak optimal. Ada momentum yang terlewat. Tapi fase ini tidak bisa dihapus, dan tidak perlu dihapus. Dia membentuk konteks dari siapa kita sekarang. Masalahnya terjadi ketika kita terlalu lama stuck di sana — terus melihat ke belakang, terus membandingkan, terus menyesali.
Fase di antara — ini yang paling banyak dialami tapi paling jarang dibicarakan. Fase stagnan. Tidak maju, tapi juga tidak bisa mundur. Di fase inilah validasi eksternal menjadi paling menggoda, karena kita butuh konfirmasi dari luar bahwa kita masih on track, masih relevant, masih worth something. Dan di sinilah social media bisa menjadi sangat toxic: kita membandingkan behind the scenes kita dengan highlight reel orang lain — dan hasilnya selalu tidak adil.
Fase ke depan — ini bukan sesuatu yang otomatis terjadi. Ini adalah arah yang dipilih secara sadar. Menatap ke depan bukan berarti melupakan kemarin atau mengabaikan fase di antara. Tapi ini soal keputusan: bahwa masa lalu tidak harus mendefinisikan siapa kita ke depan, dan bahwa kita tidak perlu menunggu validasi dari luar untuk mulai bergerak.
Yang menarik, banyak orang tidak menyadari bahwa mereka sedang terjebak di salah satu fase ini — sampai ada sesuatu yang cukup kuat untuk menghentikan mereka sejenak dan bertanya: sebetulnya saya sedang di mana?
Peran Psikologi di Era yang Bergerak Terlalu Cepat
Perubahan perilaku manusia yang diakselerasi oleh teknologi — khususnya AI — membuat peran psikologi ke depan semakin krusial.
Bukan hanya untuk "mengobati" gangguan mental yang sudah terjadi, tapi untuk membantu manusia menavigasi kecepatan perubahan yang semakin tidak linear. Dunia bergerak lebih cepat dari kapasitas adaptasi kita. Dan kalau tidak ada fondasi internal yang kuat — sense of self yang tidak bergantung pada eksternal — kita akan terus terseret arus.
Scroll tanpa tujuan. Post tanpa makna. Chase tanpa arah yang jelas.
Para psikolog dan peneliti perilaku akan semakin dibutuhkan — bukan hanya di klinik, tapi di perusahaan, di sekolah, di ruang kebijakan publik. Karena pertanyaannya bukan lagi "bagaimana teknologi bekerja?" tapi "apa yang teknologi lakukan terhadap cara kita berpikir, merasakan, dan mendefinisikan diri kita?"
Lalu, Apa yang Sebenarnya Kita Kejar?
Tidak ada jawaban yang sempurna. Dan mungkin memang tidak perlu ada.
Tapi semakin dalam kita pikirkan, semakin terlihat bahwa yang paling banyak dari kita kejar sebenarnya bukan kesuksesan, bukan kekayaan, bukan bahkan kebahagiaan dalam arti yang sederhana.
Yang kita kejar adalah rasa bahwa kita cukup.
Cukup capable. Cukup dilihat. Cukup berarti.
Dan masalahnya adalah — kalau kita terus mencarinya dari luar, dari likes, dari approval orang lain, dari perbandingan yang tidak pernah adil — kita tidak akan pernah sampai. Karena external validation itu sifatnya sementara. Otak kita akan selalu minta lebih.
Internal validation — kemampuan untuk mengenali nilai diri sendiri, terlepas dari apa yang orang lain katakan — itu yang jauh lebih sustainable. Tapi juga jauh lebih susah dibangun, terutama di dunia yang terus-menerus mengukur segalanya dengan angka dan metrik.
Apa yang sebenarnya kita kejar?
Mungkin jawabannya dimulai dengan berhenti sejenak. Meletakkan HP. Dan duduk cukup lama dengan diri sendiri untuk mendengar apa yang sebenarnya kita inginkan — bukan apa yang algoritma ingin kita inginkan.
Baca juga:





Komentar